Saat Anak Presiden Ajak Warga Buang Dolar Demi Selamatkan Rupiah

- Penulis

Senin, 27 Juli 2026 - 12:56 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta – Nilai mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bahkan sempat menyentuh Rp 18.000.

Ada kisah menarik saat pelemahan rupiah di tahun 1998 lalu. Saat itu anak sulung Presiden ke-2 RI Soeharto Siti Hardijanti Rukmana alias Tutut Soeharto berupaya menggagas gerakan khusus demi memperkuat rupiah di tengah krisis moneter.

Wanita yang akrab disapa Tutut ini menggagas gerakan untuk mendorong rupiah. Kala itu, Indonesia memang sedang berada dalam situasi sulit.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurut catatan Jan Luiten van Zanden dalam Ekonomi Indonesia 1800-2010 (2012), nilai tukar rupiah jatuh drastis dari semula stabil di kisaran Rp2.000 per dolar AS merosot hingga sekitar Rp10.000-12.000 per dolar AS. Kondisi ini dipicu gejolak mata uang baht Thailand pada pertengahan 1997 yang kemudian merambat ke berbagai negara Asia, termasuk Indonesia.

Di tengah situasi tersebut, Tutut Soeharto pada Januari 1998 menginisiasi Gerakan Cinta Rupiah (Getar). Tujuannya sederhana, yakni mengajak masyarakat melepas simpanan dolar AS demi membantu penguatan rupiah sekaligus memulihkan kepercayaan terhadap ekonomi nasional.

“Gerakan Cinta Rupiah (Getar) yang dipelopori Ny. Siti Hardianti Rukmana atau Mbak Tutut benar-benar menggetarkan,” tulis koran Bali Post (16 Januari 1998).

Tutut sendiri memberi contoh langsung. Dia tercatat melepas US$50 ribu milik pribadinya untuk ditukar ke rupiah. Menurutnya, langkah tersebut dilakukan bukan hanya untuk membantu menguatkan rupiah, tetapi juga meningkatkan rasa cinta terhadap Indonesia.

Tak lama setelah diinisiasi Tutut, sejumlah pejabat negara ikut melakukan hal serupa. Dalam pemberitaan Bali Post (13 Januari 1998), beberapa anggota MPR tercatat mendatangi bank untuk menukar dolar AS mereka ke rupiah. Salah satu nama yang ikut melakukan aksi tersebut adalah sosok Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono yang saat itu masih menjadi anggota MPR Fraksi ABRI.

“Di antara rombongan itu (red, yang menukar dolar AS) tampak ketua Panitia Ad Hoc MPR, Hartono, Wakil Ketua Susilo Bambang Yudhoyono. […] Susilo Bambang Yudhoyono menukar US$1.300,” ungkap Bali Post (13 Januari 1998).

Baca Juga:  Amran Copot Sementara 14 Pejabat Kementan, Nonjob Mulai Hari Ini

Selain anggota parlemen, sejumlah pejabat ekonomi juga ikut melepas kepemilikan dolar AS mereka. Menteri Keuangan Mar’ie Muhammad, Gubernur Bank Indonesia Soedradjad Djiwandono, hingga tokoh lain disebut ikut berpartisipasi. Dari aksi tersebut, dana yang terkumpul di Gedung Bank Indonesia mencapai sekitar US$650 ribu.

Kalangan pengusaha pun ikut ambil bagian. Menurut Berita Yudha (13 Januari 1998), pengusaha Aburizal Bakrie, The Ning King, dan Imam Taufik masing-masing tercatat melepas US$100 ribu. Ini menjadikannya sebagai individu terbesar yang melepas kepemilikan dolar di Indonesia. Sementara pengusaha Sukamdani Sahid Gitosardjono berada di posisi berikutnya.

“Rangking kedua diduduki pengusaha Sukamdani Sahid Gitosardjono yang melepas US$ 50.100 dan merelakan 1 Kg emas miliknya kepada pemerintah,” ungkap Berita Yudha (13 Januari 1998).

Seiring berjalannya waktu, Gerakan Cinta Rupiah mulai meluas dan diikuti masyarakat dari berbagai kalangan profesi. Di tengah aksi tersebut, Tutut juga diketahui kembali menambah kontribusinya dengan menyerahkan 2 kilogram emas miliknya kepada pemerintah.

Meski begitu, gerakan tersebut mulai dikritik hanya beberapa minggu kemudian. Sejumlah pengamat menilai Gerakan Cinta Rupiah tidak akan cukup kuat menahan tekanan pasar. Sebab, dana yang terkumpul disebut tak lebih dari US$5 juta alias jauh dari kebutuhan Indonesia untuk menghadapi krisis yang mencapai miliaran dolar AS.

“Ini tak akan menyelesaikan masalah,” ungkap pengusaha Fahmi Idris, dikutip Bali Post (1 Februari 1998).

Kritik tersebut kemudian terbukti. Nilai tukar rupiah terus melemah dalam bulan-bulan berikutnya dan membuat harga kebutuhan pokok melonjak tajam. Pada Mei 1998, krisis ekonomi berubah menjadi krisis sosial dan politik yang memicu kerusuhan besar di berbagai daerah.

Tak lama setelah itu, tepat pada 21 Mei 1998, Soeharto resmi mengundurkan diri setelah lebih dari 32 tahun berkuasa.

Sumber : cnbcindonesia.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel www.beranda-informasimedia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Mualem–Dek Fadh Dorong Pusat Tuntaskan Tiga Persoalan Strategis Aceh: Dana Otsus, Bendera Aceh, dan Lapangan Blang Padang
Kak Na Ajak Kader PKK Aceh Jaya Terlibat Aktif pada Upaya Penanggulangan TB
Australia Dukung Penguatan Demokrasi di Aceh melalui Program Partisipasi
Putin Undang Zelensky ke Moskow, Janji Jamin Keselamatan
Amran Copot 8 Pejabat Bulog-Bapanas Buntut Kasus Oplos Beras Subsidi
Jual Solar Subsidi 300 Liter, Sopir Dump Truck di Aceh Ditangkap Polisi
Update Pemilu Israel: Exitpoll Belum Clear, Gadi Eisenkot Klaim Menang
Kak Na Semangati Anak Binaan di LPKA Lambaro
Berita ini 6 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 2 November 2026 - 19:58 WIB

Mualem–Dek Fadh Dorong Pusat Tuntaskan Tiga Persoalan Strategis Aceh: Dana Otsus, Bendera Aceh, dan Lapangan Blang Padang

Senin, 2 November 2026 - 17:56 WIB

Kak Na Ajak Kader PKK Aceh Jaya Terlibat Aktif pada Upaya Penanggulangan TB

Jumat, 30 Oktober 2026 - 17:26 WIB

Australia Dukung Penguatan Demokrasi di Aceh melalui Program Partisipasi

Jumat, 30 Oktober 2026 - 10:24 WIB

Putin Undang Zelensky ke Moskow, Janji Jamin Keselamatan

Kamis, 29 Oktober 2026 - 15:22 WIB

Amran Copot 8 Pejabat Bulog-Bapanas Buntut Kasus Oplos Beras Subsidi

Berita Terbaru

Internasional

Putin Undang Zelensky ke Moskow, Janji Jamin Keselamatan

Jumat, 30 Okt 2026 - 10:24 WIB