JAKARTA – Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) mendesak pihak perusahaan pemilik Kapal Motor (KM) Virgo Transport 8 untuk segera mengevakuasi dan mengangkat bangkai kapal yang mengalami kecelakaan di Laut Jawa pada 13 September tersebut.
Langkah tersebut dinilai krusial guna mempermudah dan memaksimalkan proses evakuasi korban yang diduga masih terjebak di dalam kapal.
“Sekarang, kami mengharapkan dan mendorong pihak perusahaan dan asuransi segera itu, segera diangkat kapalnya,” Kepala Kantor SAR Kelas A Banjarmasin I Putu Sudayana dalam konferensi pers, Minggu (27/9/2026) malam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sudayana menegaskan perusahaan tidak perlu menunda proses pengangkatan kapal hanya karena menunggu seluruh proses pencarian dan evakuasi yang dilakukan tim SAR gabungan selesai.
“Jangan menunggu kami, ‘Oh masih Basarnasnya bekerja’, tidak,” tegasnya.
“Silakan diangkat kapalnya sesegera mungkin, sehingga begitu kapalnya diangkat dibalikkan kembali di atas permukaan air, kita sudah bisa dengan leluasa memberikan evakuasi, proses evakuasi,” sambungnya.
Sudayana menambahkan, pimpinan Basarnas juga terus mendorong pihak-pihak terkait agar proses pengangkatan bangkai kapal dapat dilakukan tanpa penundaan.
Desakan ini dikeluarkan bukan tanpa alasan. Dia menyebut kondisi di lapangan menunjukkan tim penyelam telah mengerahkan kemampuan terbaik mereka, namun menghadapi keterbatasan fisik dan teknis akibat posisi kapal saat ini.
“Sampai saat ini pimpinan kami terus mendorong itu. Karena apa? Tim penyelam itu sudah maksimal ini, tapi tetap akan berusaha (melakukan pencarian korban),” ujarnya.
Kendala Tim Penyelam
Basarnas mengungkap enam kendala yang dihadapi tim penyelam dalam melakukan operasi pencarian dan evakuasi korban kecelakaan Kapal Motor (KM) Virgo Transport 8, utamanya dalam menyisir bagian dalam bangkai kapal.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Banjarmasin I Putu Sudayana menyebut kendala pertama yang dihadapi penyelam adalah perubahan trim atau derajat kemiringan kapal.
“Jadi, kapal ini terus berubah kemiringannya dan ini berpotensi risiko tinggi bagi penyelam apabila sewaktu-waktu stabilitasnya itu tiba-tiba berubah total, nah ini ya pasti keselamatan penyelam itu terancam,” kata Sudayana dalam konferensi pers, Minggu (27/9/2026) malam.
Kendala kedua terkait struktur dalam kapal yang tidak stabil. Menurut penuturannya, ketika penyelam mencoba masuk sejauh 15 meter ke dalam kapal, kondisi stabilitas kembali berubah.
“Jadi itu sudah diupayakan, namun begitu masuk ke dalam, itu ada perubahan stabilitas di dalam kapal, nah ini sehingga tim penyelam itu tidak berani masuk lagi ke dalam kapal,” jelasnya.
Kendala ketiga, jarak pandang atau visibility yang sangat rendah. Hal itu karena sedimen atau lumpur yang sudah mulai masuk ke dalam kapal.
“Kemudian kendala berikutnya, ada bahaya benda-benda tajam di kapal,” ucap Sudayana.
“Jadi ini juga sangat berisiko karena visibility rendah, kemudian di sana banyak barang-barang yang tajam dan berisiko untuk melukai dan lain-lain. Ini menjadi kendala yang sangat berisiko bagi keselamatan penyelam,” sambung Sudayana.
Kendala kelima yang dihadapi tim penyelam yakni adanya bahan kimia dari tumpahan minyak atau bahan bakar minyak (BBM) dan kontaminasi lainnya.
“Di sana ada kendaraan, nah ini kendaraan-kendaraan ini sudah apa, BBM-nya itu sudah mulai ada yang keluar ya. Nah inilah yang membuat risiko juga bagi penyelam, keselamatannya. Ini tidak berani untuk melaksanakan penyelaman di area-area yang memang sudah mengeluarkan chemical itu,” jelasnya.
Kendala keenam adalah gas density yang hampir mendekati batas aman di kedalaman 27 meter. Kondisi tersebut membuat tim penyelam tidak mempunyai durasi maksimal dalam melakukan penyelaman.
“Misalnya menggunakan dua tabung atau satu tabung tidak bisa maksimal untuk digunakan, hanya paling lama itu dia bisa 20 menit ya. Karena pengaruh gas atau apa namanya ini, gas density yang disampaikan oleh OSC selam ya,” tuturnya.
Berbagai kendala tersebut, kata dia, membuat penyelam belum dapat menjangkau seluruh bagian kapal.
“Jadi ini kendala-kendala yang dihadapi tim penyelam, sehingga tidak bisa semua kompartemen-kompartemen yang ada di kapal itu dimasuki, karena alasan-alasan ini ya,” terangnya.
Sumber : kompas.com











