BIM |WASHINGTON DC – Amerika Serikat (AS) secara resmi memulai penjualan minyak mentah Venezuela setelah menyelesaikan transaksi pertama senilai 500 juta dollar AS (Rp 8,4 triliun). Seorang pejabat pemerintahan AS menyebut, penjualan perdana tersebut telah rampung dan menjadi langkah awal dari rencana pemanfaatan cadangan minyak Venezuela.
Pejabat itu juga mengatakan bahwa penjualan minyak tambahan diperkirakan akan berlangsung dalam beberapa hari hingga pekan ke depan, sebagaimana dilansir CNN, Rabu (14/1/2026).
Penjualan itu terealisasi setelah AS melancarkan serangan ke Venezuela dan menangkap Presiden Nicolas Maduro pada awal bulan ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sejak operasi tersebut, Presiden AS Donald Trump secara terbuka menyampaikan niatnya untuk mengakses cadangan minyak Venezuela yang sangat besar. Trump pada Jumat (9/1/2026) menyatakan bahwa industri minyak akan menginvestasikan sedikitnya 100 miliar dollar AS untuk membangun kembali sektor energi Venezuela yang telah rusak.
Namun, Trump tidak menjelaskan dasar perhitungan angka tersebut. Baca juga: Takut Dilirik Trump, Warga Malaysia Sebut Negaranya Cuma Hutan: Tak Ada Minyak di Sini Rencana pemerintahan Trump untuk memanfaatkan minyak Venezuela justru disambut skeptis oleh para eksekutif energi Amerika Serikat.
Keraguan itu mencuat dalam pertemuan para petinggi perusahaan energi dengan pejabat Gedung Putih pada Jumat. CEO ExxonMobil Darren Woods secara terbuka menyampaikan hambatan besar dalam berbisnis di Venezuela. “Ini tidak dapat diinvestasikan,” kata Woods kepada para pejabat saat membahas tantangan usaha di negara Amerika Latin tersebut.
Dia menegaskan bahwa masih banyak persoalan mendasar yang harus diselesaikan sebelum investasi dapat dilakukan. “Ada sejumlah kerangka hukum dan komersial yang harus dibentuk untuk memahami jenis keuntungan apa yang bisa kami peroleh dari investasi tersebut,” ujar Woods.
Keraguan serupa juga disampaikan oleh sejumlah eksekutif energi lainnya dalam pertemuan tersebut. Setelah pertemuan panjang di Gedung Putih pada Jumat, Trump dan para ajudannya keluar tanpa membawa komitmen besar dari perusahaan-perusahaan energi untuk mengucurkan investasi miliaran dollar AS di Venezuela. Hingga Rabu, rincian terkait penjualan minyak pertama itu belum diungkap secara jelas kepada publik.
Namun, juru bicara Gedung Putih, Taylor Rogers, menyatakan bahwa pemerintahan Trump tetap mendorong komunikasi dengan pelaku industri energi.
“Tim Presiden Trump memfasilitasi diskusi positif dan berkelanjutan dengan perusahaan-perusahaan minyak yang siap dan bersedia melakukan investasi yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk memulihkan infrastruktur minyak Venezuela,” kata Rogers dalam sebuah pernyataan. Di sisi lain, laporan Reuters pada Rabu menyebutkan bahwa minyak mentah Venezuela ditawarkan kepada para pedagang dengan harga diskon. Harga tersebut lebih murah dibandingkan minyak dari negara pesaing, termasuk Kanada. Penawaran diskon ini menunjukkan upaya AS untuk menarik minat pasar di tengah ketidakpastian investasi dan situasi politik Venezuela yang masih bergejolak.
Sumber: kompas.com











