Kenapa AS Tak Gunakan Kekuatan Militer untuk Buka Selat Hormuz?

- Penulis

Senin, 30 Maret 2026 - 08:48 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BIM | WASHINGTON DC – Ketegangan di Selat Hormuz kian meningkat setelah Iran menargetkan kapal-kapal dagang di jalur vital tersebut akibat perang yang terjadi dengan Amerika Serikat dan Israel sejak akhir Februari. Aksi ini membuat arus pengiriman minyak dan gas terganggu, bahkan memicu krisis energi global.

Meski demikian, Amerika Serikat belum mengambil langkah militer langsung untuk membuka kembali jalur pelayaran tersebut, walaupun Presiden Donald Trump telah memberi ultimatum kepada Iran agar menghentikan serangan.

Seorang ahli angkatan laut, Jennifer Parker, sebagaimana dilansir The Independent pada Jumat (27/3/2206), menjelaskan bahwa keputusan AS ini bukan tanpa alasan. Ada sejumlah faktor strategis dan risiko besar yang membuat operasi militer di Selat Hormuz menjadi sangat kompleks.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Fokus militer AS masih pada target utama

Menurut Parker, AS saat ini lebih memprioritaskan penghancuran kemampuan utama Iran, seperti program nuklir dan rudal balistiknya. Selain itu, jaringan proksi Iran juga menjadi target penting dalam operasi militer yang sedang berlangsung.

Mengalihkan sumber daya militer untuk mengamankan Selat Hormuz berisiko mengganggu pencapaian tujuan utama tersebut. Padahal, operasi terhadap target strategis Iran membutuhkan kekuatan udara, intelijen, dan persenjataan dalam jumlah besar.

Mengamankan selat tak cukup dari laut

Upaya membuka Selat Hormuz tidak hanya soal mengerahkan kapal perang. AS juga perlu mengendalikan wilayah daratan di sekitar selat, terutama garis pantai Iran yang menjadi titik peluncuran serangan. Hal ini bisa berarti pengerahan pasukan darat atau operasi serangan terbatas ke wilayah Iran—langkah yang dinilai sangat berisiko dan berpotensi memperluas konflik.

Baca Juga:  Yaman Resmi Ikut Perang, Houthi Serang Israel-AS Siapkan Operasi Darat

Untuk memastikan keamanan kapal dagang, AS harus menyediakan pengawalan militer dalam setiap pelayaran. Idealnya, satu hingga dua kapal perang diperlukan untuk satu misi pengawalan. Namun, semakin besar konvoi kapal, semakin tinggi pula risiko serangan dari Iran, kecuali kemampuan serangan Teheran telah dilemahkan secara signifikan.

Risiko tinggi bagi personel militer

Setiap kapal perang AS membawa lebih dari 200 personel. Dalam kondisi Iran masih memiliki kemampuan menyerang menggunakan drone, rudal, dan kapal tanpa awak, risiko terhadap keselamatan pasukan menjadi sangat tinggi.

Parker menilai, sebelum ancaman dari wilayah pantai Iran benar-benar dikurangi, pengerahan kapal perang justru bisa menimbulkan kerugian besar bagi AS.

Ancaman tambahan: Ranjau laut dan drone

Selain serangan langsung, Iran juga berpotensi menggunakan ranjau laut untuk menghambat pelayaran. Bahkan, tanpa benar-benar memasang ranjau, cukup dengan menciptakan persepsi adanya ancaman, kapal-kapal sipil sudah enggan melintas. Proses pembersihan ranjau sendiri bisa memakan waktu berminggu-minggu hingga berbulan-bulan.

Di sisi lain, penggunaan drone oleh Iran juga menjadi tantangan serius karena sulit dideteksi dan bisa diluncurkan dari berbagai lokasi.

Sumber : kompas.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel www.beranda-informasimedia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Mualem–Dek Fadh Dorong Pusat Tuntaskan Tiga Persoalan Strategis Aceh: Dana Otsus, Bendera Aceh, dan Lapangan Blang Padang
Kak Na Ajak Kader PKK Aceh Jaya Terlibat Aktif pada Upaya Penanggulangan TB
Australia Dukung Penguatan Demokrasi di Aceh melalui Program Partisipasi
Putin Undang Zelensky ke Moskow, Janji Jamin Keselamatan
Amran Copot 8 Pejabat Bulog-Bapanas Buntut Kasus Oplos Beras Subsidi
Jual Solar Subsidi 300 Liter, Sopir Dump Truck di Aceh Ditangkap Polisi
Update Pemilu Israel: Exitpoll Belum Clear, Gadi Eisenkot Klaim Menang
Kak Na Semangati Anak Binaan di LPKA Lambaro
Berita ini 2 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 2 November 2026 - 19:58 WIB

Mualem–Dek Fadh Dorong Pusat Tuntaskan Tiga Persoalan Strategis Aceh: Dana Otsus, Bendera Aceh, dan Lapangan Blang Padang

Senin, 2 November 2026 - 17:56 WIB

Kak Na Ajak Kader PKK Aceh Jaya Terlibat Aktif pada Upaya Penanggulangan TB

Jumat, 30 Oktober 2026 - 17:26 WIB

Australia Dukung Penguatan Demokrasi di Aceh melalui Program Partisipasi

Jumat, 30 Oktober 2026 - 10:24 WIB

Putin Undang Zelensky ke Moskow, Janji Jamin Keselamatan

Kamis, 29 Oktober 2026 - 15:22 WIB

Amran Copot 8 Pejabat Bulog-Bapanas Buntut Kasus Oplos Beras Subsidi

Berita Terbaru

Internasional

Putin Undang Zelensky ke Moskow, Janji Jamin Keselamatan

Jumat, 30 Okt 2026 - 10:24 WIB