DPR Bakal Cek Data Jatam Terkait Dugaan Sinarmas dan Musim Mas yang Merusak Hutan di Aceh

- Penulis

Minggu, 25 Januari 2026 - 10:02 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BIM | Terkait dugaan Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) tentang kolaborasi bisnis sawit Sinarmas Group dengan Musim Mas di Provinsi Aceh, berkontribusi terhadap kerusakan hutan yang berujung bencana Sumatera, mendapat atensi DPR.

Anggota Komisi IV DPR dari Fraksi Partai NasDem, Rajiv berjanji akan mengecek temuan Jatam itu. “Nanti kami komisi IV akan mengecek,” ucap Rajiv kepada Inilah.com di Jakarta, Sabtu (24/1/2026).

Terkait sanksi yang mesti dikenakan kepada dua korporasi besar itu, Rajiv hanya menyebut, ikuti aturan yang berlaku. “(Sanksinya) sesuai aturan yang berlaku,” pungkasnya.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sebelumnya, Koordinator Nasional (Kornas) Jatam Melky Nahar menyebut kongsi bisnis sawit antara Sinarmas Group dengan Musim Mas Group yang kini dikendalikan Bachtiar Karim. diduga kuat berkontribusi terhadap kerusakan lingkungan di Aceh.

Kolaborasi bisnis ini, diduga menjadi biang kerok banjir bandang dan longsor yang menewaskan sedikitnya 1.200 jiwa. Dalam laporan bertajuk Katastrofe Sumatera: Jejak Oligarki di Hulu DAS dan Zona Rawan Bencana, Jakarta, Kamis (22/1/2026), Jatam menguliti bisnis sawit Sinarmas Group yang saat ini dikendalikan Franky Widjaja.

Di mana, ada keterhubungan rantai pasok sawit dari beberapa lokasi di Aceh, lewat Golden Agri-Resources (GAR), yang membawahi PT SMART Tbk.

“Kita sudah cek, Golden Agri Resources (GAR) adalah pilar sawit dari Sinarmas Group. Mereka beli sawit berupa tandan buah segar dari perusahaan perusak hutan di Aceh. Termasuk dari Musim Mas Group,” ungkap Melky.

Pola hubungan ini antara lain terlihat dalam pernyataan resmi di situs PT SMART Tbk yang menyebut adanya keterkaitan rantai pasok dengan Perkumpulan Sejahtera Pelita Nusantara (PSPN), sebuah kelompok petani swadaya beranggotakan sekitar 270 petani di Aceh Utara.

Sinarmas Group. melalui GAR dan PT SMART, misalnya, tercatat memiliki keterhubungan rantai pasok sawit di Aceh, termasuk wilayah sekitar Kawasan Ekosistem Leuser dan Rawa Singkil yang berulang kali dikaitkan dengan deforestasi dan banjir.

Baca Juga:  Kak Na Safari ke Sentra Kerajinan Eceng Gondok hingga Kasab di Aceh Barat

“Lalu, ada Musim Mas Group yang beroperasi di Aceh Tamiang, Aceh Singkil, Aceh Timur, dan Subulussalam, wilayah yang terdampak banjir sangat parah di Aceh,” ungkapnya.

Dalam laporan bertajuk ‘Skandal Bom Karbon’ yang dipublikasikan Rainforest Action Network (RAN) pada September 2022, Sinar Mas disebut sebagai salah satu korporasi yang terbukti gagal melindungi hutan di Suaka Margasatwa (SM) Rawa Singkil, bagian dari Kawasan Ekosistem Leuser yang berstatus situs konservasi nasional.

Di mana, SM Rawa Singkil membentang di tiga wilayah administratif, yakni Kabupaten Aceh Selatan, Aceh Singkil, dan Kota Subulussalam. Berdasarkan laporan RAN, salah satu pemasok sawit untuk SMART/GAR terbukti membuka dan mengelola perkebunan sawit ilegal di dalam kawasan tersebut.

Keterlibatan Musim Mas

Masih dalam laporan yang sama, Jatam ‘mencolek’ Musim Mas yang masuk dalam laporan Rainforest Action Network (RAN) pada September 2022. Mesin uang Bachtiar Karim itu, dituding sebagai salah satu produsen sawit yang harus bertanggung jawab atas kerusakan bentang alam SM Rawa Singkil.

Praktik cuci tangan dengan berpura-pura telah ‘bertanggung jawab’ dilakukan di Aceh Tamiang, Aceh Singkil, dan Kota Subulussalam. Di Aceh Tamiang dan Aceh Singkil, Musim Mas menyatakan bekerja sama dengan Earthworm Foundation dalam proyek yang dinamakan ‘Earthworm Foundation’s Aceh Landscape Program’, bermitra dengan berbagai perusahaan, yaitu Mars, Nestle.

Proyek yang dilaksanakan itu, diklaim sebagai pembangunan kapasitas pemerintah daerah untuk melakukan perencanaan spasial dan pembangunan distrik dengan membantu aktor lanskap prioritas untuk mengidentifikasi, memetakan, mengelola, dan memantau kawasan hutan berstatus High Conservation Value (HCV) dan High Carbon Stock (HCS).

Sumber : inilah.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel www.beranda-informasimedia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Mualem–Dek Fadh Dorong Pusat Tuntaskan Tiga Persoalan Strategis Aceh: Dana Otsus, Bendera Aceh, dan Lapangan Blang Padang
Kak Na Ajak Kader PKK Aceh Jaya Terlibat Aktif pada Upaya Penanggulangan TB
Australia Dukung Penguatan Demokrasi di Aceh melalui Program Partisipasi
Kak Na Semangati Anak Binaan di LPKA Lambaro
Pj Sekda Aceh Sampaikan Nota Keuangan dan Rancangan APBA 2027 dalam Rapat Paripurna DPRA
WAGUB ACEH DEK FADH SERAHKAN BANTUAN BUFFER STOCK PENANGGULANGAN BENCANA UNTUK BENER MERIAH DAN ACEH TENGAH
WAGUB ACEH HADIRI MAULID NABI MUHAMMAD SAW 1448 H DAN DOA BERSAMA PERINGATI SATU TAHUN BENCANA BANJIR DAN LONGSOR DI DATARAN TINGGI GAYO
Hadiri Verifikasi Lapangan Evaluasi PUG, Pj. Sekda Aceh Dorong Pembangunan Responsif Gender
Berita ini 29 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 2 November 2026 - 19:58 WIB

Mualem–Dek Fadh Dorong Pusat Tuntaskan Tiga Persoalan Strategis Aceh: Dana Otsus, Bendera Aceh, dan Lapangan Blang Padang

Senin, 2 November 2026 - 17:56 WIB

Kak Na Ajak Kader PKK Aceh Jaya Terlibat Aktif pada Upaya Penanggulangan TB

Jumat, 30 Oktober 2026 - 17:26 WIB

Australia Dukung Penguatan Demokrasi di Aceh melalui Program Partisipasi

Selasa, 27 Oktober 2026 - 20:34 WIB

Kak Na Semangati Anak Binaan di LPKA Lambaro

Senin, 26 Oktober 2026 - 18:10 WIB

Pj Sekda Aceh Sampaikan Nota Keuangan dan Rancangan APBA 2027 dalam Rapat Paripurna DPRA

Berita Terbaru

Internasional

Putin Undang Zelensky ke Moskow, Janji Jamin Keselamatan

Jumat, 30 Okt 2026 - 10:24 WIB