Rusia Keluarkan Surat Perintah Penangkapan Bos Telegram

- Penulis

Kamis, 30 Juli 2026 - 20:27 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Moskow – Otoritas Rusia merilis surat perintah penangkapan internasional terhadap pendiri dan CEO Telegram Pavel Durov pada Rabu (29/7) waktu setempat. Otoritas Moskow telah mendakwa Durov atas tuduhan “keterlibatan dalam terorisme”.

Durov yang kelahiran Rusia, seperti dilansir AFP dan Reuters, Rabu (29/7/2026), merupakan seorang pengusaha teknologi terkemuka yang telah bertahun-tahun tinggal di luar negeri, dan diketahui kini memegang paspor Prancis dan Uni Emirat Arab (UEA).

Selama ini, Durov kerap berselisih dengan otoritas Rusia seiring langkah Moskow memperketat kendali atas ruang internet.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Aplikasi pesan Telegram yang diciptakan Durov menjadi salah satu platform komunikasi utama di Rusia. Otoritas Moskow berulang kali berupaya memblokir akses atau menghambat kesuksesan aplikasi tersebut, demi menekan Durov untuk menyerahkan data pengguna atau mendorong warga Rusia beralih ke layanan alternatif yang didukung negara, namun tanpa enkripsi.

“Pemberitahuan pencarian internasional telah dirilis… terhadap pimpinan administrasi Telegram, P Durov,” demikian pernyataan Dinas Keamanan Rusia (FSB).

Moskow kerap menargetkan lawan-lawan politiknya dengan tuduhan mendukung “terorisme” atau “ekstremisme”.

Baca Juga:  ‎Dek Fadh Ikuti Rakor Perkembangan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera

Dalam kasus Durov ini, FSB menuduh Telegram telah digunakan sebagai sarana perekrutan oleh badan keamanan Ukraina untuk memaksa warga Rusia melakukan aksi sabotase. Dakwaan memfasilitasi aktivitas terorisme dijeratkan terhadap Durov karena dia tidak menghapus “informasi terlarang”.

FSB menjelaskan bahwa dakwaan tersebut berkaitan dengan kegagalan Telegram menghapus materi “yang digunakan oleh dinas khusus Ukraina dan organisasi teroris dan ekstremis untuk mempersiapkan dan mengkoordinasikan aksi sabotase dan terorisme, pembunuhan massal, dan operasi penipuan siber di wilayah Federasi Rusia”.

Belum ada tanggapan langsung dari Durov ataupun pihak Telegram.

Durov, yang kini tinggal di Prancis, juga menghadapi masalah hukum lainnya terkait tuduhan penyebaran konten ilegal di Telegram.

Durov yang lahir di Saint Petersburg, kota asal Presiden Vladimir Putin, sebelumnya mendirikan VKontakte, yang dikenal luas sebagai “Facebook-nya Rusia”. Namun dia dipaksa keluar dari perusahaan tersebut saat tekanan otoritas Moskow semakin besar pada pertengahan tahun 2010 lalu, kemudian dia mendirikan Telegram.

Sumber : detik.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel www.beranda-informasimedia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Putin Undang Zelensky ke Moskow, Janji Jamin Keselamatan
Amran Copot 8 Pejabat Bulog-Bapanas Buntut Kasus Oplos Beras Subsidi
Jual Solar Subsidi 300 Liter, Sopir Dump Truck di Aceh Ditangkap Polisi
Update Pemilu Israel: Exitpoll Belum Clear, Gadi Eisenkot Klaim Menang
Rakyat Serbia Rayakan Tumbangnya Vucic yang Berkuasa Sejak 2014
Rupiah Dibuka Melemah, Dolar AS Naik ke Rp18.050 Pagi Ini
6 Juta Anak Selamat Berkat Polri-BNN Bongkar Lab Narkoba 1,2 Ton di Aceh
RI Resmi Pangkas Ekspor Gas, Singapura Beri Respons Tak Terduga
Berita ini 13 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 30 Oktober 2026 - 10:24 WIB

Putin Undang Zelensky ke Moskow, Janji Jamin Keselamatan

Kamis, 29 Oktober 2026 - 15:22 WIB

Amran Copot 8 Pejabat Bulog-Bapanas Buntut Kasus Oplos Beras Subsidi

Rabu, 28 Oktober 2026 - 06:56 WIB

Update Pemilu Israel: Exitpoll Belum Clear, Gadi Eisenkot Klaim Menang

Senin, 26 Oktober 2026 - 15:05 WIB

Rakyat Serbia Rayakan Tumbangnya Vucic yang Berkuasa Sejak 2014

Senin, 26 Oktober 2026 - 14:03 WIB

Rupiah Dibuka Melemah, Dolar AS Naik ke Rp18.050 Pagi Ini

Berita Terbaru

Internasional

Putin Undang Zelensky ke Moskow, Janji Jamin Keselamatan

Jumat, 30 Okt 2026 - 10:24 WIB